CEO Mastercard: Dua Kata Kunci untuk Kuasai 85 Persen Pangsa Pasar
Banyak perusahaan menghabiskan banyak waktu dan biaya untuk merumuskan visi misi yang sempurna. Kalimatnya ditata dengan sangat indah, dicetak besar dan dipajang dengan bangga di dinding lobi atau ruang rapat. Namun sayangnya, sering kali itu semua hanya berhenti sebagai dekorasi.
Aryo Meidianto
2/19/20262 min read


Banyak perusahaan menghabiskan banyak waktu dan biaya untuk merumuskan visi misi yang sempurna. Kalimatnya ditata dengan sangat indah, dicetak besar dan dipajang dengan bangga di dinding lobi atau ruang rapat. Namun sayangnya, sering kali itu semua hanya berhenti sebagai dekorasi. Visi tersebut tidak pernah turun ke lapangan, tidak mengalir dalam darah setiap karyawan, dan sama sekali tidak mempengaruhi strategi bisnis harian. Ia mati seketika setelah dipasang.
Kisah transformasi Mastercard di bawah kepemimpinan Ajaypal Singh "Ajay" Banga adalah contoh sempurna bagaimana sebuah visi seharusnya bekerja. Suatu hari, Banga melewati dinding kantornya yang memajang slogan "Mastercard, the heart of commerce". Sebagai CEO, dia justru mempertanyakan slogan itu sendiri. Bagaimana mungkin mereka menjadi jantung perdagangan, sementara sebagian besar perdagangan dunia masih menggunakan uang tunai? Pikiran kritisnya itu membawanya pada sebuah data yang mengubah segalanya, ternyata 85 persen transaksi global masih dilakukan dengan cash.
Dari sana, Banga tidak mengubah seluruh rencana bisnis lima tahunan. Dia lantas membuat strategi inisiatif yang dinamai "Kill Cash". Dua kata itu seperti semboyan perang. Ia dengan segera mengubah pola pikir seluruh organisasi. Tim tidak lagi berdebat tentang pangsa pasar yang kecil, tetapi bersemangat mengejar lahan subur seluas 85 persen yang belum tersentuh. Tujuannya jelas, Mastercard harus bisa mengalihkan perekonomian global dari uang tunai fisik menuju pembayaran digital, yang sering digambarkan sebagai "dunia tanpa uang tunai". Inisiatif ini menargetkan 85% transaksi global yang sebelumnya dilakukan secara tunai, dengan tujuan untuk meningkatkan efisiensi, mengurangi biaya transaksi (diperkirakan 0,5-1,5% dari PDB), dan meningkatkan inklusi keuangan.
Inisiatif jangka panjang "Mastercard Kill Cash" itu hidup. Ia menjadi filter untuk setiap pengambilan keputusan, dari inovasi produk hingga ekspansi ke pasar baru. Mastercard mulai berinvestasi besar besaran pada teknologi finansial, bermitra dengan pemerintah di negara berkembang, dan membuka akses keuangan digital bagi mereka yang belum memiliki rekening bank. Pesan "hapuskan uang tunai" tersebut kemudian disempurnakan menjadi "dunia tanpa uang tunai" agar terdengar lebih positif, dengan fokus pada manfaat transaksi digital.
Pendekatan ini mencakup perluasan infrastruktur digital, dukungan terhadap pembayaran seluler, dan peningkatan adopsi di pasar negara berkembang. Dampaknya terasa, strategi ini membantu mendorong pertumbuhan signifikan bagi Mastercard, dengan kapitalisasi pasarnya meningkat dari sekitar $27 miliar menjadi $325 miliar selama satu dekade. Inisiatif tersebut sejalan dengan visi dari Mastercard yang sangat jelas.
Visi yang kuat bukanlah dekorasi dinding, melainkan kompas yang mengarahkan setiap langkah kaki dari perusahaan. Belajar dari Mastercard, visi harus mampu memicu pertanyaan kritis, menginspirasi tindakan, dan memberikan arah yang gamblang bagi seluruh tim. Jadi, tanyakan pada diri Anda dan bisnis Anda, apakah visi yang Anda miliki saat ini sudah memiliki nyawa seperti itu, ataukah ia masih hanya sekadar hiasan yang diam di tembok?
dok. www.theheart.tech
Bizsense is a comprehensive business consulting firm who empower companies to unlock their full potential through strategic guidance and innovative solutions.
call us
Do you need business assistance?
contact@bizsense.id
WA +6281584094915
© 2025. All rights reserved. Bizsense Indonesia


A sister company of SEQARA Communications
