Krisis Eiger: Reputasi Bisnis Rapuh Karena Komunikasi Ceroboh
Insiden percakapan internal tim Eiger yang menyebut seorang Key Opinion Leader (KOL) dengan istilah "masih micro" telah menyingkap kerentanan operasional dalam manajemen kemitraan digital perusahaan. Kasus ini bukan sekadar masalah komunikasi buruk, tetapi merupakan cermin dari potensi risiko bisnis yang besar.
Aryo Meidianto
2/20/20261 min read


Insiden percakapan internal tim Eiger yang menyebut seorang Key Opinion Leader (KOL) dengan istilah "masih micro" telah menyingkap kerentanan operasional dalam manajemen kemitraan digital perusahaan. Kasus ini bukan sekadar masalah komunikasi buruk, tetapi merupakan cermin dari potensi risiko bisnis yang besar. Dalam ekosistem digital saat ini, setiap percakapan, bahkan yang dianggap privat, dapat berubah bersifat publik dan merusak reputasi merek yang dibangun bertahun-tahun.
Dari kacamata bisnis, pola pikir yang mengukur nilai kemitraan semata dari jumlah followers adalah strategi yang keliru. Influencer mikro dan nano justru sering memiliki keterlibatan audiens yang lebih tinggi dan otentisitas yang lebih kuat. Mengabaikan nilai mereka bukan hanya menghina mitra, tetapi juga meremehkan segmen pasar yang loyal dan sangat terdampak oleh rekomendasi. Ini adalah kesalahan penilaian yang berpotensi makin mempersempit jangkauan pasar suatu produk.
Krisis komunikasi seperti ini langsung berdampak pada hubungan dengan seluruh mitra kolaborator. KOL lain, baik yang mikro maupun makro, akan mempertanyakan integritas dan profesionalisme dari merek Eiger. Sementara, Kepercayaan yang merupakan aset paling berharga dalam kemitraan bisnis, mulai terkikis. Hal ini dapat berujung pada sulitnya menarik talenta kolaborasi yang berkualitas di masa depan, serta meningkatkan biaya untuk membangun kembali reputasi yang rusak.
Respons perusahaan dengan meminta maaf dan melakukan tindakan tegas terhadap pihak terkait adalah langkah krisis manajemen yang standar. Namun, langkah tersebut lebih bersifat kuratif. Tantangan bisnis sesungguhnya adalah membangun sistem dan budaya yang preventif. Perlu ada pelatihan menyeluruh tentang etika komunikasi digital, protokol standar dalam berinteraksi dengan semua mitra, serta penilaian kemitraan yang berbasis nilai dan kinerja, bukan sekadar ukuran metrik kuantitatif semata.
Kejadian ini menjadi studi kasus berharga bagi seluruh pelaku bisnis. Di era dimana reputasi dianggap sebagai mata uang baru, setiap interaksi dapat mewakili citra merek. Investasi dalam membangun tim internal yang paham mengenai etika digital, komunikasi empatik, dan manajemen hubungan mitra yang profesional tidak dilihat dari sisi biaya, tetapi proteksi aset strategis. Bisnis yang abai akan hal ini hanya menunggu waktu sebelum percakapan internal yang terkesan sembrono menjadi sebuah krisis publik yang mahal.
Bizsense is a comprehensive business consulting firm who empower companies to unlock their full potential through strategic guidance and innovative solutions.
call us
Do you need business assistance?
contact@bizsense.id
WA +6281584094915
© 2025. All rights reserved. Bizsense Indonesia


A sister company of SEQARA Communications
