Rahasia di Balik Cuan Raksasa: Bukan dari Produk Utama, Tapi dari 'Pelengkap' yang Menggiurkan!
Dibalik kesuksesan banyak raksasa industri di dunia terdapat sebuah rahasia besar yang jarang diketahui, ternyata sumber profit terbesar mereka seringkali bukan berasal dari produk yang paling dikenal publik atau produk yang mereka jual. Strategi ini, yang dalam dunia bisnis dikenal sebagai model "Razor & Blade"
Aryo Meidianto
2/12/20262 min read


Dibalik kesuksesan banyak raksasa industri di dunia terdapat sebuah rahasia besar yang jarang diketahui, ternyata sumber profit terbesar mereka seringkali bukan berasal dari produk yang paling dikenal publik atau produk yang mereka jual. Strategi ini, yang dalam dunia bisnis dikenal sebagai model "Razor & Blade", yang mengajarkan kita untuk melihat lebih dalam mengenai sebuah produk utama yang bisa jadi hanya sebuah pancingan. Konsumen akan merasa mendapatkan deal terbaik untuk barang utama yang dijual, tanpa sadar bahwa ekosistem di sekitarnyalah yang akan mengunci loyalitas mereka sekaligus menjadi mesin uang utama sebuah produk.
Ambil contoh Sony PlayStation. Konsol game sering dijual dengan margin keuntungan tipis, bahkan terkadang merugi. Namun, di sanalah pintu masuk menuju sebuah profit yang sesungguhnya yakni mulai dari penjualan game berlisensi, layanan langganan online, dan aksesoris premium. Setiap pemain yang memainkan konsol Sony Playstation, secara teratur mengkontribusi aliran pendapatan yang jauh lebih besar kepada Sony melalui pembelian game secara online dan biaya langganan untuk bermain daring yang dilakukan secara berulang. Ini merupakan contoh simfoni bisnis di mana produk utama mereka, konsol Sony Playstation, hanyalah pembuka semata, sementara penjualan secara repetitif menjadi nafas dari bisnis Sony sesungguhnya.
Kejadian serupa juga dapat kita lihat di industri hiburan. Hal ini terlihat pada jaringan bioskop seperti Cinema XXI atau CGV, misalnya, mungkin kita hanya melihat mereka mengandalkan penjualan tiket pertunjukan film sebagai bisnis utama. Namun, sesungguhnya margin keuntungan dari penjualan tiket tersebut sering terpotong oleh biaya distribusi film. Sumber keuntungan sesungguhnya justru bersembunyi di konter popcorn, minuman, dan snack yang mereka sediakan. Harga jual yang tinggi dengan margin besar pada makanan minuman inilah yang menjadi penyelamat profitabilitas bisnis bioskop, mengubah setiap penonton bukan sekadar penyuka film, melainkan juga konsumen F&B. Itulah sebabnya, setiap calon penonton yang akan masuk ke gedung bioskop dilarang untuk membawa makanan dan minuman dari luar.
Bahkan, hal ini juga terjadi di bisnis waralaba. McDonalds, yang identik dengan burger, ayam goreng dan kentang goreng, ternyata mendapatkan porsi keuntungan yang sangat signifikan dari bisnis properti dan lisensi. Mereka seringkali memiliki atau menguasai lokasi-lokasi strategis, kemudian menyewakannya dan menjual franchise-nya, selain tentunya mengambil royalty fee. Jadi, di balik simbol burger dan ayam goreng, terdapat kekuatan sebuah bisnis real estate dan branding yang jauh lebih kokoh.
Kisah-kisah ini memberikan satu pelajaran bisnis yang penting, kesuksesan sejati seringkali terletak pada kemampuan sebuah merek untuk membangun ekosistem, bukan sekadar menjual produk. Hal ini akan mengubah transaksi satu kali menjadi hubungan yang berkelanjutan, dan mengubah produk sampingan menjadi sumber keuntungan. Pertanyaannya, dalam bisnis Anda, di manakah "blade" atau "popcorn"-nya? Mungkin inilah saatnya melihat ke sekeliling produk utama Anda, dan menemukan harta karun yang selama ini terabaikan.
Ilustrasi anak main PlayStation dibuat dengan AI prompt by Bizsense Indonesia.
Bizsense is a comprehensive business consulting firm who empower companies to unlock their full potential through strategic guidance and innovative solutions.
call us
Do you need business assistance?
contact@bizsense.id
WA +6281584094915
© 2025. All rights reserved. Bizsense Indonesia


A sister company of SEQARA Communications
