Viral “Big Arch” McDonald’s: Saat Olok-olok Justru Jadi Mesin Awareness

Beberapa hari terakhir, video CEO McDonald’s, Chris Kempczinski, mempromosikan burger baru bernama “Big Arch” tersebar masif di media sosial. Video tersebut diunggah pertama kali pada 3 Maret 2026 dan langsung viral karena sang CEO terlihat canggung saat mempromosikan burger baru, "Big Arch" bahkan menyebutnya sebagai produk.

Aditya Wardhana

3/9/20262 min read

Beberapa hari terakhir, video CEO McDonald’s, Chris Kempczinski, mempromosikan burger baru bernama “Big Arch” tersebar masif di media sosial. Video tersebut diunggah pertama kali pada 3 Maret 2026 dan langsung viral karena sang CEO terlihat canggung saat mempromosikan burger baru, "Big Arch" bahkan menyebutnya sebagai produk. Dalam video Instagram tersebut, ia justru terlihat kurang antusias saat menggigit burger, memicu ejekan dan parodi dari netizen serta CEO pesaing. Insiden ini justru menyoroti peluncuran burger tersebut. Reaksi warganet pun beragam—dari cemoohan, parodi, hingga sindiran dari para pesaing seperti Burger King, Wendy’s, bahkan A&W. Anehnya, semakin ditertawakan, semakin banyak orang yang penasaran.

Di balik tawa dan komentar sinis, ada satu fakta yang sulit dibantah: video itu bekerja.

Mengapa Video Ini “Sempurna”

Jika tujuan awalnya adalah membuat orang membicarakan Big Arch, maka misi tercapai. Viral berarti eksposur; eksposur berarti peningkatan kesadaran produk. Mau suka atau tidak, orang yang melihat video itu akan terpicu ke salah satu dari tiga respons:

  • “Bukan buat saya. Enggak bakal nyoba.”

  • “Kelihatan menggoda! Penasaran pengin nyoba.”

  • “Menarik juga. Mungkin akan nyoba.”

Respons ini hampir selalu bergantung pada preferensi yang sudah ada sebelumnya. Bagi yang memang tak gemar McDonald’s, peluang mencoba sejak awal sudah kecil. Namun bagi pengunjung sesekali, yang mungkin tadinya tidak tahu ada menu baru, video ini adalah pengingat keras: “Hei, ada yang baru.” Itulah celah konversi yang sering terlupa.

Troll, Gigitan Kecil, dan Kata “Produk”

Banyak yang mengejek gaya Kempczinski: gigitan super kecil, diksi teknis—menyebut burger sebagai “produk”—dan gestur yang canggung. Tentu mudah menertawakan. Tapi justru di situlah daya tariknya: kejanggalan yang otentik. Ia berbicara seperti seorang CEO yang melihat burger sebagai unit produk, bukan hanya makanan. Itu realitas perannya.

Akibatnya? Percakapan meluas. Komentar mengalir. Brand pesaing nimbrung. Hari peluncuran Big Arch berubah menjadi panggung raksasa. Singkatnya: reach yang “tak terbeli”.

Pelajaran Kecerdasan Emosional

Menampilkan diri di ruang publik itu sulit. Mayoritas orang tidak pernah menekan tombol “Live” karena khawatir soal penampilan, suara, dan—yang paling menakutkan—olok-olok massa. Namun keberanian untuk tampil, plus kemampuan untuk tidak reaktif menghadapi cemoohan, adalah inti dari kecerdasan emosional.

Di sini, McDonald’s bermain cerdas. Alih-alih defensif, mereka masuk ke arus lelucon. Akun resmi bahkan mengadopsi istilah “produk” sebagai caption—sebuah sinyal: “Kami paham, kami ikut bercanda.” Saat sebuah brand menunjukkan kesadaran diri, jarak dengan audiens menyempit. Jadi lebih manusia.

Strategi Komunikasi: Don’t Fight the Meme

  • Manfaatkan momentum: Saat internet membicarakan Anda—bahkan secara negatif—abaikan dorongan untuk membantah. Ikut arus, kelola narasi.

  • Validasi candaan: Tunjukkan bahwa Anda tidak kaku. Self-awareness adalah mata uang kepercayaan.

  • Fokus ke tujuan: Awareness pada hari H peluncuran lebih berharga ketimbang reputasi “terlihat sempurna”.

Hasilnya? Setiap meme, setiap roasting, setiap punchline—semuanya menjadi pendorong rasa ingin tahu. Dan rasa ingin tahu menggerakkan trafik, yang pada gilirannya mendorong trial.

Poin Kunci:

  • Video Viral: Kempczinski mempromosikan Big Arch, burger berukuran lebih besar, tetapi ekspresi dan cara makannya dinilai tidak meyakinkan.

  • Reaksi: Video tersebut menjadi bahan olokan di media sosial, memicu komentar mengenai kurangnya antusiasme sang CEO.

  • Pesaing Ikut Campur: CEO Burger King dan Wendy's merespons dengan video mereka sendiri, mengejek cara makan Kempczinski.

  • Dampak: Meskipun viral karena alasan negatif, McDonald's menyatakan peluncuran Big Arch berjalan sukses.

Penutup: Coba Yang Terbaik, Abaikan Haters

Tidak setiap eksperimen komunikasi akan mulus. Ada yang menang, ada yang gagal. Namun terkadang yang tampak seperti kekalahan—gigitan kecil yang jadi bahan olok-olok—malah berubah menjadi kemenangan besar: perhatian publik yang tak ternilai dan antrian nyata di kasir.

Pelajaran utamanya sederhana: beranilah tampil, lakukan yang terbaik, dan biarkan suara sumbang berlalu. Karena sering kali, keberanian itu sendiri adalah panggung yang paling ramai.